25OctBelajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Pengalaman Belajar atau Nilai

Nilai yang diperoleh mahasiswa mempunyai fungsi ganda, sebagai ukuran keberhasilan mahasiswa dalam mempelajari mata kuliah dan sekaligus sebagai alat evaluasi keberhasilan mata kuliah itu sendiri dalam mengubah pengetahuan dan kepribadian mahasiswa. Dalam kenyataannya, fungsi yang kedua sering diabaikan sama sekali walaupun makna fungsi yang pertama sebenarnya sangat tergantung kemampuan nilai untuk merefleksi apakah peserta telah menjalani proses belajar yang semestinya. Dalam hal tertentu, nilai yang diperoleh mahasiswa memang merupakan indikator kesuksesan mahasiswa dalam menempuh kuliah tetapi mungkin bukan merupakan ukuran keberhasilan pencapaian tujuan atau sasaran pengajaran mata kuliah dalam mengubah pengetahuan, perilaku, atau kepribadian mahasiswa termasuk penalarannya. Dalam hal inilah nilai ujian sebagai ukuran keberhasilan harus dipertimbangkan validitasnya.

Bagi mahasiswa yang mempunyai tujuan individual yang jelas, tentunya nilai bukan merupakan tujuan tetapi lebih merupakan suatu konsekuensi logis dari apa yang dilakukannya selama mengikuti proses belajar. Oleh karena itu, pertanyaan yang sangat fundamental bagi mahasiswa sejati adalah apakah mereka belajar untuk nilai atau belajar untuk tahu. Tugas dosen dan pengelola pendidikan adalah meyakinkan dan mengendalikan agar mahasiswa yang memang telah berubah pengetahuan dan kepribadiannya mendapatkan nilai yang sepantasnya. Kalau tidak, perguruan tinggi hanya menghasilkan orang bergelar tetapi tidak membawa serta perubahan perilaku dan pengetahuan. Hubungan antara nilai dan proses belajar dapat ditunjukkan dalam skema pada Gambar 3 berikut ini.

proses-belajar-dan-nilai
Gambar 3. Hubungan Proses Belajar dan Nilai

Masalah pengendalian belajar yang perlu dipikirkan adalah manakah yang dianggap lebih penting dalam proses belajar: proses belajarnya atau nilainya. Keputusan mengenai hal ini akan mempengaruhi sikap dan perilaku dosen dan mahasiswa dalam proses belajar-mengajar. Bila penyelenggaraan kuliah memungkinkan seorang mahasiswa dapat memperoleh nilai tinggi tanpa mahasiswa tersebut mengalami atau menjalani proses belajar yang semestinya maka mata kuliah dan proses belajarnya sebenarnya belum mengajarkan apa-apa kepada mahasiswa. Bila mahasiswa lulus tanpa melewati proses belajar yang semestinya, perguruan tinggi hanya akan berfungsi menjadi semacam lembaga jasa pengujian (educational testing service seperti TOEFL). Lebih parah lagi kalau soal ujian tidak valid sebagai alat ukur, nilai dan ijazah tidak lagi merefleksi perubahan perilaku dan pemahaman. Ijazah hanya berfungsi untuk menegaskan bahwa mahasiwa yang bersangkutan pernah hidup sebagai mahasiswa.

Bila proses belajar dianggap hal yang penting daripada sekadar nilai ujian (dan inilah sebenarnya jasa yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan kepada masyarakat) maka pengendalian proses belajar harus menjadi perhatian utama. Kesepakatan mengenai bagaimana proses belajar-mengajar akan dilaksanakan perlu disampaikan kepada mahasiswa. Perguruan tinggi juga harus menciptakan citra bahwa proses belajar yang ditawarkan memang proses belajar yang menuntut calon mahasiswa untuk bersedia menempuhnya. Persepsi mahasiswa yang keliru mengenai hal ini akan menyebabkan mahasiswa merasa frustrasi menjalankan proses belajar khususnya kalau mahasiswa membawa serta kebiasaan salah dari sekolah menengah.

Konsep Tentang Dosen
Telah disebutkan bahwa dalam proses belajar mengajar yang semestinya, dosen tidak mendefinisi diri sebagai dan dipandang sebagai sumber pengetahuan utama bahkan hanya satu-satu-nya sumber. Dalam proses belajar mengajar yang efektif, dosen semestinya harus dipandang sebagai seorang manajer kuliah. Sumber pengetahuan utama adalah buku, perpustakaan, artikel dalam majalah, hasil penelitian, dan media cetak atau audio-visual lainnya (termasuk pengalaman dosen tentunya). Sekali lagi, dosen mendapat tugas untuk memegang suatu kelas karena yang bersangkutan telah mengalami proses belajar tertentu dan telah memperoleh pengalaman-pengalaman berharga (termasuk pengalaman praktik dan penelitian) yang mungkin perlu disampaikan kepada mereka yang akan menjalani proses belajar yang sama. Dengan demikian mahasiswa yang akan menjalani dan mengalami proses yang sama akan memperoleh pengetahuan yang sama (atau bahkan diharapkan lebih) dengan cara yang lebih efektif dan tidak perlu membuat kesalahan yang sama.
Jadi, dosen harus dipandang sebagai manajer kelas dan merupakan nara sumber (resource person) proses belajar. Dalam teknologi pendidikan, dikatakan bahwa dosen bertindak sebagai director, facilitator, motivator, dan evaluator proses belajar. Panel B dalam Gambar 1 sebenarnya melukiskan peran dosen sebagai manajer kelas dan nara sumber mata kuliah. Dosen menetapkan sumber pengetahuan yang harus dipelajari secara mandiri oleh mahasiswa dalam bentuk silabus atau program belajar, mahasiswa menjalani proses belajar tersebut di bawah pengendalian dosen.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • Technorati
  • Google
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb
  • NewsVine

Related posts

Leave a Reply




Flickr

Niebla de diciembre. Sierra de Grazalema, AndalucíaMinimal moonSunset in the WestbeachIMG_4458A Nice Combination

Links