27OctBelajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Kemandirian Belajar

Telah disebutkan di atas bahwa belajar sebenarnya merupakan kegiatan individual dan berlanjut. Di mata mahasiswa, proses belajar mengajar yang sekarang berjalan pada umumnya belum dipandang sebagai proses belajar mandiri. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ketidakmampuan mahasiswa dalam mengungkapkan gagasan dan menemukan suatu gagasan atau masalah untuk bahan penulisan skripsi atau tulisan lainnya. Penulis menduga bahwa hal ini disebabkan proses belajar di kelas sampai tingkat akhir kebanyakan terlalu banyak ditekankan pada aspek doing tetapi kurang penekanan pada aspek thinking. Apa yang diajarkan di kelas lebih banyak berkaitan dengan masalah diketahui-hitung-hitungan atau berkaitan dengan bagaimana mengerjakan sesuatu tetapi kurang menantang mengapa demikian dan apa implikasinya.

Dengan kata lain penalaran bukan merupakan basis pemahaman. Akibatnya, pengembangan kemampuan bernalar terhambat. Bahkan dalam banyak hal, dosen cenderung mengisolasi (tidak memberitahu) hasil penelitian atau gagasan-gagasan alternatif yang berbeda (apalagi yang kontroversial) dengan apa yang diajarkan atau dipraktikkan (berlaku) dengan dalih agar mahasiswa tidak bingung dalam praktik. Dalam bidang akuntansi misalnya, Sterling (1987) mencotohkan bahwa dosen cenderung mengajarkan apa yang nyatanya dipraktikkan (the current state) daripada apa yang seharusnya dipraktikkan (the desired state). Sementara itu, dosen menuntut mahasiswa agar berpikir kreatif dan inovatif (dan suka bertanya). Dalam kondisi yang kontradiktif yang mengarah ke isolasi ini (analogi dengan pemasangan kaca mata kuda), mahasiswa akan cenderung untuk mengoptimalkan dirinya dengan menerima saja apa yang diajarkan (menjadi mesin dengarkopi). Akibatnya fiksasi fungsional tentang makna kuliah yang keliru tertanam dalam diri mahasiswa yang pada gilirannya akan menumbuhkan sikap resistensi yang tinggi terhadap perubahan.

Kemandirian belajar sering menjadi terhambat karena aspek berpikir dan bernalar banyak diambil alih oleh dosen, baik pada tahun pertama maupun tahun-tahun berikutnya sampai tingkat akhir. Banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan kegiatan mandiri (baik thinking maupun doing) diambil alih oleh instruktur/dosen. Ibarat memakan buah apel, dosen mengunyahkan buah tersebut sampai siap ditelan dan mahasiswa tinggal menelannya. Proses semacam ini sebenarnya merupakan proses pembebalan dan bukan proses penajaman pikiran. Keadaan ini dilukiskan dalam Gambar 4 di bawah ini.

kemandirian-belajar
Gambar 4. Kemandirian Belajar

Dalam Gambar 4 panel atas, mahasiswa yang sudah terbiasa menelan pengetahuan yang telah dikunyahkan dosen tanpa masalah dan kontroversi (kebetulan dosen juga senang demikian) tiba-tiba pada tahun terakhir (akhir tahun keempat) mahasiswa harus mengunyah sendiri pengetahuan dan mengajukan masalah untuk karya tulisnya. Jelas dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Mahasiswa tidak mampu mengidentifikasi masalah yang menjadi perhatiannya yang pantas untuk diangkat menjadi judul skripsi. Akhirnya mahasiswa mempunyai kesan yang keliru bahwa yang namanya masalah untuk penulisan skripsi adalah suatu bab dalam sebuah buku teks yang tidak dikuasai dengan baik dan belum dipelajari dengan semestinya semasa kuliah. Masalah dalam skripsi adalah masalah dirinya dalam mempelajari topik dan bukan masalah umum. Akibatnya, banyak judul dan isi skripsi yang sama dengan judul dan isi sebuah bab dalam buku teks tetapi dikemas dalam format skripsi. Dengan demikian, skripsi tidak lebih dari sebuah medium untuk belajar suatu bab dalam buku teks yang kalau mahasiswa telah mempelajari bab tersebut dengan baik, mestinya mahasiswa merasa tidak perlu menulis bab tersebut dalam bentuk skripsi.

Kalau proses belajar pada Gambar 4 atas menjadi pola dan berjalan terus, kemandirian hanya akan menjadi slogan saja dan tidak akan pernah terwujud dalam sikap dan perilaku mahasiswa. Sayangnya, hal seperti ini justru yang sering menjadi harapan atau yang disukai mahasiswa. Dalam angket evaluasi dosen, dosen yang skornya tinggi justru dosen yang dapat menyampaikan materi secara sistematis dan dapat menghasilkan catatan yang rapi bagi mahasiswa walaupun catatan tersebut akhirnya sama dengan apa yang terdapat dalam buku yang tidak pernah dibaca mahasiswa. Neusner (1984) menunjukkan bagaimana cara mengevaluasi dosen yang seharusnya sementara Mohanan (2003) memberi ciri dosen yang berkualitas tinggi (excellent teacher). Seandainya mahasiswa telah membaca dan memahami (walaupun tidak secara penuh) materi yang dijelaskan secara runtut dan rinci tersebut mungkin mahasiswa akan berpikir bahwa yang dibahas di kelas tidak menambah pengetahuannya sehingga mahasiswa dapat menuntut lebih banyak dari dosen. Hal ini akan mendorong dosen untuk selalu meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya. Dengan demikian pengetahuan juga akan menjadi berkembang dan lembaga pendidikan tinggi tidak sekadar berfungsi untuk menyebarkan pengetahuan tetapi juga mengembangkan pengetahuan. Hal ini pulalah yang membedakan perguruan tinggi dengan kursus.

Kemandirian belajar adalah hasil suatu proses dan pengalaman belajar itu sendiri. Kalau proses belajar tidak memberi pengalaman bahwa belajar merupakan suatu kegiatan individual maka perilaku mandiri dalam belajar akan tetap merupakan impian. Masalahnya adalah kapan pengalaman kemandirian harus ditanamkan kepada peserta didik atau mahasiswa. Kapan mahasiswa harus mempunyai kesan yang benar bahwa belajar di perguruan tinggi sangat berbeda dengan belajar di sekolah menengah atau lembaga kursus.

Kemandirian belajar harus dimulai sejak pertama kali mahasiswa memasuki perguruan tinggi. Hal ini dimungkinkan kalau terdapat buku pegangan yang memadai yang dapat dijadikan pegangan bersama antara dosen dan mahasiswa. Sekali lagi, perilaku mandiri akan terbentuk kalau kelas tidak diisi dengan hal-hal yang sebenarnya mahasiswa mampu untuk melakukan sendiri dengan petunjuk seperlunya dari dosen. Di samping itu, mahasiswa harus punya keyakinan bahwa dosen bukan sumber pengetahuan utama. Sumber pengetahuan utama tersedia di perpustakaan dan di media cetak atau audio-visual lainnya termasuk internet. Kemandirian merupakan sikap yang terbentuk akibat rancangan proses belajar yang cermat. Sikap/perilaku mandiri merupakan sikap yang sengaja dibentuk dan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya.

Agar kemandirian dapat terbentuk, tugas dosen adalah mengarahkan, memotivasi, memperlancar dan mengevaluasi proses belajar mandiri mahasiswa sehingga temu kelas akan diisi dengan hal-hal yang bersifat konseptual dan temu kelas akan merupakan ajang konfirmasi pemahaman mahasiswa terhadap materi dan tugas yang harus dikerjakan di luar jam temu kelas. Di lain pihak, mahasiswa dituntut untuk mengerjakan sendiri hal-hal yang sebenarnya mereka mampu untuk mengerjakan dengan petunjuk seperlunya dari dosen. Dengan demikian, dosen akan banyak dapat menyampaikan kearifan (wisdom) daripada sekadar masalah teknis sehingga temu kelas akan mempunyai nilai tambah yang tinggi.

Konsep Memiliki Buku
Buku merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari belajar. Buku merupakan sumber pengetahuan. Hal yang sering kurang disadari mahasiswa adalah bahwa memiliki buku lain sekali artinya dengan memiliki kertas bergambar huruf. Lebih menarik lagi adalah gejala
Jacob Neusner, How to Grade Your Professors and Other Unexpected Advice (Boston: Beacon Press, 1984). K. P. Mohanan, “Assessing Quality of Teaching in Higher Education,” www.cdtl.nus.edu.sg/publications/assess. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pak Hari (H. C. Yohanes) yang menjediakan bahan terakhir.
bahwa memiliki buku belum merupakan suatu sikap atau budaya kita. Kurangnya minat untuk memiliki buku mungkin timbul karena anggapan bahwa dosen dan kuliah merupakan sumber pengetahuan utama. Mungkin juga masih dianggap hal yang kurang etis di Indonesia untuk memaksa mahasiswa membawa buku dalam kuliah dan digunakan bersama di kelas (mungkin karena kemampuan ekonomik yang tidak sama untuk membeli).

Dari kaca mata dosen, pertanyaan yang menjadi sindroma dosen apabila dosen harus menggunakan buku di kelas adalah: “Kalau mahasiswa sudah memegang buku yang baik dan jelas dalam menguraikan masalah (apalagi berbahasa Indonesia), lalu apa yang harus saya ajar-kan di kelas?” Untuk memecahkan sindroma ini acap kali mahasiswa ditempatkan pada posisi kurang menguntungkan (disadvantaged position) dengan digunakannya buku bahasa asing sebagai pegangan utama walaupun terdapat buku berbahasa Indonesia yang sebenarnya cukup memadai (tentu saja buku tersebut tidak sempurna). Alasannya adalah mahasiswa harus menguasai materi sekaligus mampu berbahasa Inggris (membaca buku teks asing). Akibatnya, karena kenyataan kemampuan rata-rata mahasiswa untuk memahami buku berbahasa asing (Inggris), banyak mahasiswa yang dengan segala upaya mencari terjemahan atau berusaha mencari penerjemah secara bersama-sama dan membawa buku bahasa Inggris di kelas untuk formalitas saja.

Pendekatan semacam ini dapat bersifat disfungsional, mahasiswa menjadi terhambat dalam menguasai materi sementara itu mahasiswa juga tidak menjadi mampu berbahasa Inggris. Mungkin pendekatan yang terbaik adalah menggunakan buku berbahasa Indonesia sebagai pegangan utama dan buku berbahasa Inggris sebagai buku pendukung dan keduanya dipaksakan untuk dimiliki mahasiswa. Tentu saja pemilihan buku yang dianggap memadai merupakan keputusan strategik (dan dalam hal tertentu juga politis) penyelenggara atau pengelola pendidikan.

Buku adalah sumber pengetahuan yang harus dibaca, ditulisi, dicorat-coret, ditempeli artikel dan “diajak berdialog” sehingga buku tersebut akan menjadi bagian dari pribadi seseorang. Kalau buku yang dibeli tetap bersih dan tidak pernah diajak dialog maka seseorang sebenarnya hanya memiliki kertas bergambar garis dan huruf dan seandainya buku tersebut hilang maka tidak ada rasa kehilangan apapun karena buku yang sama dapat segera dibeli di toko buku. Lain halnya kalau buku tersebut telah dibaca dan dipahami serta diberi tanda-tanda khusus pada bagian-bagian yang dianggap penting dan menarik, maka apabila buku tersebut hilang maka seseorang akan merasa seperti kehilangan seorang kekasih.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • Technorati
  • Google
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb
  • NewsVine

Related posts


  1. 1 Noname29 Oct 2008

    Cobalah Bung melihat dr sudut pandang yg lain.
    Sy jg sorg pendidik lhow …tahukah anda bhw tdk semua org mpnyai pemahaman brilian spt anda,yg bs paham hny dgn membaca…jd brsykurlah ats fadhilah yg Allah brkn kpd anda. Krn tdk smw org bs memahami suatu perkara hny dgn mbc buku. Ada yg hrs djelaskan, dipahamkan dg dbr contoh2 nyata.

    Dan cobalah memahami dr sdt pndg yg lain..krn ad manusia2 lain yg mgkn sibuk bljr utk ursn yg lebih wajib dipelajari,shg ia hny bs bljr ilmu yg bersangkutan ktk temu kelas dan ktk mw ujian. Bahkan mgkn kl mw dtawari akan lbh memilih utk tdk bljr ilm yg brsangkutan sama sekali..
    Bukankah anda sendiri pernah mengalaminya?

    Anda suka baca buku y?
    Coba baca buku “warosatul anbiya” aina nahnu min haa’ulaa’i punya sy abdul malik ibn muhammad al qasim.
    Buku ini bagus banget, bikin kt ngiri, trs nangis, abis itu malu sama diri kita sndri. Dijamin anda akan menandai..akan mewarnai..setiap halamannya..
    Penasaran?baca aj…
    Kayaknya belum ada trjmahannya deh,baca kitab aslinya aj ya. He9

    [Reply]

  2. 2 Agung14 Dec 2008

    Mo bahas ttg buku. Saya tidak setuju dengan pernyataan “klo sudah ada buku yg jelas, lalu dosen mo ngajar apa?”

    Tidak semua orang langsung paham suatu konsep dengan membaca buku. Ada orang yg lebih paham dengan mendengarkan (auditory). Itulah kenapa diadakan pertemuan di kelas, di mana dosen menerangkan tentang konsep2 tersebut. Agar semua siswa datang ke kelas, dosen bisa menambahkan hal2 yg baru yg tidak ada di buku, dan bisa juga menerangkan hal2 yg lebih spesifik menurut pengetahuan dosen tersebut.

    Btw, memangnya ada sedikit buku saduran yah di Indo? Aku mau dong klo ada offer menyadur dan translate buku asing yg bagus ke buku bahasa indonesia.

    [Reply]

  3. 3 Lutfi14 Dec 2008

    @Agung
    Iya tentu, pembelajaran jauh lebih luas daripada buku bagus, atau dosen super sekalipun. Apalagi buku teks berbahasa Indonesia yang bagus masih jarang. Tapi belajar dengan buku bahasa asing justru membawa keuntungan ganda, materi bagus, bisa belajar bahasa pula. Tentu dengan pertimbangan tebal kantong, kalau kampusnya nggak menyediakan.

    [Reply]

  4. 4 dani26 Dec 2008

    saya masi bingung bahasa ‘pembelajaran’ dgn ‘pemelajaran’,
    spt banyak jln ke roma, cara penyampaian guru/dosen/pengajar yg pas akan sangat membantu memahami buku yg belum/sudah dibaca siswa/mahasiswa :)

    [Reply]

  5. 5 Lutfi03 Jan 2009

    @dani
    Yang lebih banyak muncul sih pembelajaran yah,, intinya merujuk ke proses sih.
    Dunia pendidikan memang tak boleh stagnan, banyak tantangan yang harus dihadapi..

    [Reply]

Leave a Reply




Flickr

Niebla de diciembre. Sierra de Grazalema, AndalucíaMinimal moonSunset in the WestbeachIMG_4458A Nice Combination

Links