08OctMerchant of Death: Antara Pedagang Eceran dan Pedagang Grosiran

Lord of War

Ada satu kabar terselip di sela pemberitaan internasional yang tengah didominasi krisis ekonomi baru yang mengancam dunia. Yaitu tertangkapnya seorang buron kelas kakap berjuluk The Merchant of Death dan kini sedang menunggu hari-hari persidangannya. Terdengar seperti satu tema klise di film-film hollywood? Mungkin. Tapi pria bernama lengkap Viktor Anatolyevich Bout ini sama sekali bukan tokoh fiktif.

Meski begitu, beberapa tahun silam, hollywood memang pernah menghasilkan sebuah film bertajuk Lord of War yang cukup mencuri perhatian dan secara ’kebetulan’ mendekati kisah gambaran kehidupan Viktor Bout, hanya saja di sini Sang Saudagar Kematian punya nama Yuri Orlov. Yuri digambarkan sebagai seorang kelahiran Ukraina yang beremigrasi ke Amerika Serikat dan menemukan ‘panggilan hidupnya’ untuk berdagang senjata. Ia membeli murah berton-ton senjata alumni daerah konflik untuk dijual ke daerah konflik lain. Di dunia nyata, omzet global bisnis yang dijalani orang seperti Yuri ini mencapai lebih dari 9000 triliun rupiah[!], melebihi jumlah yang harus ditebus AS untuk mengakhiri krisis, meliputi senjata, amunisi, kendaraan-kendaraan militer, hingga sistem elektronik super canggih sebagai pendukungnya.

Yuri Orlov mungkin jadi personifikasi tepat untuk menggambarkan salah satu wujud ‘pebisnis-pebisnis’ kematian ini.  Dia mengawali film ini dengan mengungkapkan fakta yang juga menjadi prolog tulisan ini tentang jumlah senjata yang beredar di dunia. Adegan kemudian beralih ke perjalanan sebutir peluru 7,62 mm yang dimulai dari sebuah pabrik dan berakhir menembus kepala seorang bocah militia di Afrika.

Profesi Yuri Orlov digambarkan tak jauh beda dengan bos-bos perusahaan multinasional. Perjalanan bisnis dari satu negara ke negara lain, koneksi dengan pejabat tinggi, mobil mewah, hingga apartemen di kawasan super mahal di Central Park, Manhattan. Yang membedakan mungkin ‘kantor’ pusat operasionalnya yang berupa kotak kontainer, ditaruh di gudang yang tak mencolok untuk menghindarkan dari kecurigaan. Namun, singkat cerita, kantornya tadi berhasil terlacak dan seluruh dokumen bukti kejahatannya berhasi didapat Interpol, berkat informasi dari Sang Istri yang tak kuasa lagi menanggung beban menjadi istri seorang Saudagar Maut. Dipimpin seorang agen Amerika bernama Jack Valentine yang telah lama memburunya, Interpol pun meringkusnya. Namun gilirannya dalam ruang interogasi Interpol, Yuri memaparkan fakta yang meruntuhkan ketegaran sang agen Interpol hingga dia tak kuasa menahan tangis.

Yuri menuturkan bahwa sejahat apapun dirinya, dia hanyalah pedagang eceran dibanding juragan besar yang tak lain adalah pemerintah Amerika, negeri Jack sendiri. Disebutkan Yuri, total penjualannya setahun hanya sebanding dengan total penjualan militer Amerika Serikat dalam satu hari.

“Yes, I’m an evil, but I’m a necessary evil,” ungkap Yuri. Dia mengakui bahwa dia penjahat, dia setan, namun dia adalah setan yang dibutuhkan, terutama oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai ‘pemimpin pasar’ bisnis kematian dunia. Dengan cepat dia pun dibebaskan atas rekomendasi seorang pejabat tinggi militer AS, dan bisnisnya pun berlanjut, tanpa ada sedikitpun beban menggelayut lagi, karena dalam perjalanan karirnya ia telah ditinggal lari anak dan istrinya, kehilangan satu-satunya adik, dan sudah tak lagi diaku sebagai anak oleh orang tuanya. “Both my sons are dead,” kata Ibunya menanggapi telepon Yuri ketika mengabarkan tewasnya sang adik yang sebelumnya selalu turut mendukung bisnis kakaknya. Yuri tak perlu takut kehilangan apapun, karena ia memang sudah tak punya apapun lagi.

Dari sisi komersil, film ini kalah mentereng dibanding film-film fantasi atau drama nan menghibur lainnya, meski begitu Amnesty International sangat mendukung film ini untuk memahamkan masyarakat tentang bisnis kematian global yang sedang  terjadi. Meredanya perang dingin, yang disebut-sebut sebagai ajang puncak persaingan teknologi militer, tak mengubah industri kematian ini. Negara-negara yang menamai dirinya Dewan Keamanan PBB, justru ada di daftar puncak pemain-pemain utama bisnis ini. Baik itu daftar eksportir maupun daftar negara dengan pembelanjaan militer terbesar.

Amerika Serikat sebagai pemuncak klasemen eksport senjata menghasilkan sekitar tujuh miliar dollar setahun. Kebutuhan perang Afghanistan dan Irak membuat Amerika jauh meninggalkan Britania Raya dibawahnya hampir sepuluh kali lipat. Seandainya tidak ada pembeli asing sekalipun, produksi persenjataan di Amerika tetap akan mendapatkan pasarnya sendiri. Baik itu dorongan supply maupun tarikan demand, kedua alasan ekonomi ini cukup menjelaskan kenapa pecandu-pecandu perang di dunia adalah negara-negara anggota Dewan ‘Keamanan’ PBB yang juga menempati posisi-posisi puncak dalam aspek perekonomian.

Alasan dibalik pembelanjaan itu relatif seragam, demi kepentingan pertahanan negara. Memang di masa sekarang ini Kementrian Perang seperti pernah dimiliki Jerman di era NAZI dulu takkan lagi kita temui. Namun meski sekarang di Amerika Serikat perangkatnya berembel-embel US Department of Defense, esensinya tetaplah sama. Mungkin akan lebih tepat dinamai Department of Offense and Invasion. Dengan begitu kokohnya industri militer di negeri itu, tentunya tak perlu heran jika Amerika Serikat yang tampil sebagai pemimpin pasar dalam industri kematian ini.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • Technorati
  • Google
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb
  • NewsVine

Related posts


  1. 1 noe09 Oct 2008

    Setuju banget..film ini emang menarik banget..membuat penontonnya mengalami hal lain yang berbeda..apalagi ternyata ada kisah nyata yang terjadi seperti yang ada di film ini..banyak momen-momen yang berkesan..kayak Yuri Orlov harus mengganti nama kapal pas di tengah laut..bersilang pendapat tentang nama “Lord of War” atau “Warlord” sama Presiden Monrovia (entah itu negara ada bener atau engga)..wew..pokoknya sip lah ini film ini..

    noes last blog post..Di suatu tempat…

    [Reply]

  2. 2 Kang Nur18 Oct 2008

    wa.. yang seperti ini musti disebarluaskan utk membuka mata banyak orang.
    nanti kalo ada CD-nya akan saya beli. baiknya Hollywood itu, sesungguhnya mereka juga berani mengungkapkan hal2 keburukan di negerinya tanpa takut2 kan ya?

    Kang Nurs last blog post..ANDRE MOLLER DAN PARA PENGAMAT YANG TERLIBAT

    [Reply]

Leave a Reply




Flickr

Our land...my pathun champ de neigethe end of lightIMG_1655mRussell Square parkCrest #2

Links