Belajar di perguruan tinggi merupakan suatu pilihan strategik dalam mencapai tujuan individual seseorang. Semangat, cara belajar, dan sikap mahasiswa terhadap belajar sangat ditentukan oleh kesadaran akan adanya tujuan individual dan tujuan lembaga pendidikan yang jelas. Keselarasan tujuan akan menjadikan belajar-mengajar merupakan kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikkan tanpa meninggalkan scientific vigor dan rigor perguruan tinggi. Continue reading ‘Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Rangkuman’
Telah disebutkan di atas bahwa belajar sebenarnya merupakan kegiatan individual dan berlanjut. Di mata mahasiswa, proses belajar mengajar yang sekarang berjalan pada umumnya belum dipandang sebagai proses belajar mandiri. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ketidakmampuan mahasiswa dalam mengungkapkan gagasan dan menemukan suatu gagasan atau masalah untuk bahan penulisan skripsi atau tulisan lainnya. Penulis menduga bahwa hal ini disebabkan proses belajar di kelas sampai tingkat akhir kebanyakan terlalu banyak ditekankan pada aspek doing tetapi kurang penekanan pada aspek thinking. Apa yang diajarkan di kelas lebih banyak berkaitan dengan masalah diketahui-hitung-hitungan atau berkaitan dengan bagaimana mengerjakan sesuatu tetapi kurang menantang mengapa demikian dan apa implikasinya. Continue reading ‘Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Kemandirian Belajar’
Pengamatan menunjukkan bahwa penalaran bukan merupakan basis pengajaran padahal kemampuan mahasiswa untuk mengekpresi gagasan dalam karya tulis dengan baik sangat dipengaruhi oleh daya nalar dan kemampuan berbahasa khususnya berbahasa Indonesia. Dalam hal ini, Nasoetion (2000) menegaskan:
… semua mahasiswa perlu menguasai sekurang-kurangnya satu bahasa asing modern di samping bahasa Indonesia. Bukan ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar’ karena bahasa Indonesia harus baik dan benar. Kalau tidak baik dan benar, maka bahasa itu tidak boleh disebut bahasa Indonesia. Jadi penguasaan berbahasa bukan saja wajib bagi mahasiswa ilmu sastra, melainkan juga bagi mahasiswa sains alam dan matematika (hlm. 23). Continue reading ‘Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Kemampuan Berbahasa’
Nilai yang diperoleh mahasiswa mempunyai fungsi ganda, sebagai ukuran keberhasilan mahasiswa dalam mempelajari mata kuliah dan sekaligus sebagai alat evaluasi keberhasilan mata kuliah itu sendiri dalam mengubah pengetahuan dan kepribadian mahasiswa. Dalam kenyataannya, fungsi yang kedua sering diabaikan sama sekali walaupun makna fungsi yang pertama sebenarnya sangat tergantung kemampuan nilai untuk merefleksi apakah peserta telah menjalani proses belajar yang semestinya. Dalam hal tertentu, nilai yang diperoleh mahasiswa memang merupakan indikator kesuksesan mahasiswa dalam menempuh kuliah tetapi mungkin bukan merupakan ukuran keberhasilan pencapaian tujuan atau sasaran pengajaran mata kuliah dalam mengubah pengetahuan, perilaku, atau kepribadian mahasiswa termasuk penalarannya. Dalam hal inilah nilai ujian sebagai ukuran keberhasilan harus dipertimbangkan validitasnya. Continue reading ‘Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Pengalaman Belajar atau Nilai’
Kuliah merupakan kegiatan yang membedakan pendidikan formal dan nonformal. Namun, hal yang perlu dicatat adalah bahwa kuliah bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan bukan satu-satunya kegiatan belajar. Arti kuliah pada umumnya diperoleh mahasiswa bukan karena kesadarannya tentang arti kuliah yang sebenarnya tetapi karena pengalaman mahasiswa dalam mengikuti kuliah. Kesan yang keliru akan mengakibatkan adanya kesenjangan persepsi tujuan antara lembaga pendidikan, dosen, dan mahasiswa sehingga proses belajar-mengajar yang efektif menjadi terhambat. Panel A dalam Gambar 1 di bawah ini melukiskan persepsi kuliah yang kebanyakan berlaku menurut pengamatan penulis. Continue reading ‘Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Makna Kuliah’
Tujuan Belajar
Ada dua tujuan yang terlibat dan saling menunjang dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Yang pertama adalah tujuan lembaga pendidikan dalam menyediakan sumber pengetahuan dan pengalaman belajar (knowledge and learning experiences) dan yang kedua adalah tujuan individual mereka yang belajar (mahasiswa). Proses belajar-mengajar mestinya harus mampu menyelaraskan tujuan individual dan tujuan lembaga pendidikan dan bahkan tujuan pendidikan nasional. Continue reading ‘Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Tujuan dan Aspek Belajar’
Ini adalah tulisan yang biasanya akan menyambut setiap mahasiswa baru FEB di panduan akademik mereka, gak wajib dibaca sih cuman terlalu penting untuk dilewatkan ;p. Artikel yang cukup panjang ini adalah karya dari Bapak Suwardjono atau akrab dipanggil Pak SWJ, staf pengajar di kampus FEB UGM. Serial tulisan ini khusus menyambut mahasiswa-mahasiswa baru, intelektual-intelektual muda di manapun..
Belajar di perguruan tinggi merupakan pilihan strategik untuk mencapai tujuan individual bagi mereka yang menyatakan diri untuk belajar melalui jalur formal tersebut. Namun, realitas yang dihadapi oleh dosen dan penyelenggara pendidikan dalam banyak hal jauh dari harapan. Perilaku mahasiswa dan dosen dalam belajar-mengajar tidak menunjukkan segala atribut yang seharusnya melekat pada individual yang akan mendapat sebutan sebagai sarjana. Salah satu faktor yang menciptakan kondisi seperti ini adalah kesenjangan persepsi dan pemahaman penyelenggara pendidikan, dosen, dan mahasiswa mengenai makna belajar di perguruan tinggi. Continue reading ‘Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Pendahuluan’